Karyailmiah.co.id

📖 Preview Buku

100%
Memuat Sampel Buku...

BIOTEKNOLOGI DALAM SISTEM PANGAN DAN PERTANIAN MODERN

Rp65.000

Kategori

Share

Perkembangan sistem pangan dan pertanian global saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks, seperti pertumbuhan populasi dunia, perubahan iklim, alih fungsi lahan, degradasi sumber daya alam, serta meningkatnya kebutuhan pangan yang aman dan bergizi. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), sistem pangan dunia harus mampu menyediakan pangan bagi lebih dari 9 miliar penduduk pada tahun 2050 dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan. Kondisi ini menuntut inovasi teknologi yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjamin efisiensi, ketahanan, dan keberlanjutan sistem pertanian. Salah satu pendekatan strategis yang berkembang pesat dalam menjawab tantangan tersebut adalah bioteknologi. Bioteknologi merupakan penerapan ilmu biologi dan teknologi untuk memanfaatkan organisme hidup atau bagianbagiannya guna menghasilkan produk dan jasa yang bermanfaat bagi manusia. Secara historis, praktik bioteknologi konvensional telah lama digunakan dalam proses fermentasi pangan, seperti pembuatan tempe, tape, yoghurt, dan keju. Namun, perkembangan ilmu genetika dan biologi molekuler pada abad ke-20 telah mendorong lahirnya bioteknologi modern melalui teknik rekayasa genetika, kultur jaringan, marka molekuler, dan penyuntingan gen (gene editing). Dalam sektor pertanian, bioteknologi berkontribusi terhadap pengembangan varietas tanaman unggul yang memiliki produktivitas tinggi, toleran terhadap cekaman lingkungan (kekeringan, salinitas), serta tahan terhadap hama dan penyakit. Tanaman hasil rekayasa genetika seperti jagung Bt dan kedelai toleran herbisida telah banyak dibudidayakan di berbagai negara untuk meningkatkan hasil panen dan efisiensi produksi (James, 2017). Selain itu, teknologi kultur jaringan memungkinkan perbanyakan bibit secara massal dengan sifat genetik yang seragam dan bebas patogen, sehingga mendukung penyediaan benih berkualitas bagi petani. Integrasi bioteknologi dengan teknologi pertanian modern merupakan salah satu pendekatan strategis paling krusial untuk menjawab tantangan global di bidang pangan, lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam. Di era sekarang, pertanian tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kegiatan budidaya tradisional atau sekedar aktivitas sosiokultural pedesaan. Sektor ini telah bertransformasi menjadi sistem produksi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge-based economy) yang memanfaatkan prinsip biologi molekuler, mikrobiologi, genetika dan teknologi digital secara simultan. Urgensi integrasi ini dipicu oleh fenomena pertumbuhan populasi dunia yang diprediksi mencapai 9,7 milliar pada tahun 2050 yang menuntut peningkatan ketersediaan pangan hingga 70% di tengah keterbatasan lahan dan ancaman perubahan iklim yang ekstrem. Bioteknologi berperan sebagai mesin penggerak dalam meningkatkan kualitas genetik tanaman dan pemanfaatan sumber daya. Kemajuan dibidang kultur jaringan, rekayasa genetika dan penyuntingan gen (genome editing) memungkinkan produksi bibit unggul yang tidak hanya memiliki produktivitas tinggi tetapi juga tahan terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (kekeringan dan salinitas). Selain aspek genetika tanaman, pemanfaatan mikroorganisme fungsional menjadi fokus utama dalam bioteknologi tanah. Konsorsium mikroba fungsional sebagai agen hayati terbukti mampu memicu pertumbuhan tanaman (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria) sekaligus memperbaiki struktur fisik dan kimia tanah yang telah terdegradasi akibat penggunaan pupuk kimia berlebih di masa lalu (Sari dkk., 2021). Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis yang menjadi perhatian global seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia, perubahan iklim, degradasi sumber daya alam, serta keterbatasan lahan pertanian produktif. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan. Bioteknologi menjadi salah satu pendekatan ilmiah yang berperan penting dalam menjawab tantangan tersebut melalui pemanfaatan organisme hidup atau bagian-bagiannya untuk menghasilkan produk yang bernilai guna dalam sektor pertanian dan pangan (Sutrisno, 2019). Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat memberikan tekanan besar terhadap sistem produksi pangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 270,20 juta jiwa pada tahun 2020 dan meningkat menjadi sekitar 275,36 juta pada tahun 2022. Jumlah tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai lebih dari 311 juta jiwa pada tahun 2045 (BPS, 2021). Peningkatan jumlah penduduk ini secara langsung berdampak pada meningkatnya kebutuhan pangan nasional sehingga diperlukan upaya yang efektif untuk meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan. Selain masalah ketersediaan pangan, aspek akses terhadap pangan juga masih menjadi tantangan di Indonesia. Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World yang diterbitkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa sekitar 43,5% penduduk Indonesia masih belum mampu membeli makanan sehat dan bergizi secara layak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permasalahan ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyangkut aspek distribusi, keterjangkauan, serta kualitas pangan yang dikonsumsi masyarakat.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “BIOTEKNOLOGI DALAM SISTEM PANGAN DAN PERTANIAN MODERN”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detail Informasi Publikasi

Penulis
:
Silvi Yulia Rahayu, Amanda Dewi Kristiana, Siti Sopiah Maryam, Audina Febriani, Rughba Sabilal Haq, Nurlia Zahrani, Rahma Nurieanti, Dian Herayani
Editor
:
Dr. Lida Amalia, Dra., M.Si.
ISBN
:
978-634-05-3232-6
Bahasa Utama
:
Indonesia
Tahun Terbit
:
0000
Jumlah Halaman
:
247 Halaman
Scroll to Top