Sampah makanan sering dipahami sebagai sisa konsumsi yang dibuang. Monograf Konvergensi Pengelolaan Sampah Makanan pada Kabupaten/Kota di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan ini jauh lebih besar. Sampah makanan berkaitan dengan pemborosan sumber daya, tekanan lingkungan, kerugian ekonomi, dan kapasitas tata kelola daerah. Di Indonesia, persoalan ini menjadi semakin penting karena kabupaten dan kota memulai dari titik awal yang berbeda-beda. Dari sinilah monograf ini mengajukan pertanyaan utama: apakah daerah dengan tingkat food waste awal yang lebih tinggi mampu memperbaiki diri lebih cepat daripada daerah lain?
Melalui pendekatan empiris yang kuat, monograf ini membahas arah perubahan pengelolaan sampah makanan pada kabupaten/kota di Indonesia dengan menggunakan kerangka β-convergence. Monograf ini menunjukkan bahwa kecepatan perubahan tidak seragam di seluruh daerah. Sebagian wilayah bergerak lebih cepat karena ditopang oleh kapasitas fiskal, kelembagaan, dan sosial yang lebih kuat, sedangkan sebagian lainnya masih menghadapi hambatan yang lebih berat.
Daya tarik utama monograf ini terletak pada kemampuannya untuk menghubungkan teori, data, dan kebijakan dalam satu narasi yang utuh. Pembaca diajak melihat bahwa pengelolaan sampah makanan bukan hanya soal mengurangi sisa pangan, tetapi juga soal memperbaiki sistem konsumsi, pengelolaan sumber daya, pelayanan publik, dan arah pembangunan yang lebih sirkular. Karena itu, monograf ini layak dibaca oleh akademisi, mahasiswa, peneliti, pembuat kebijakan, pemerhati lingkungan, dan siapa pun yang ingin memahami persoalan sampah makanan secara lebih mendalam.







Ulasan
Belum ada ulasan.