Karyailmiah.co.id

📖 Preview Buku

100%
Memuat Sampel Buku...

PSIKOLOGI PENDIDIKAN LANDASAN TEORETIS DAN APLIKASI PRAKTIS DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Rp110.000

Kategori

Share

Kata psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu atau kajian. Dengan demikian, secara etimologis, psikologi berarti ilmu yang mempelajari tentang jiwa atau perilaku manusia. Namun, dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, psikologi tidak lagi memusatkan perhatian pada “jiwa” dalam pengertian metafisik, melainkan pada tingkah laku yang dapat diamati dan proses mental yang mendasarinya (Schultz & Schultz, 2016).Secara umum, psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia melalui pendekatan ilmiah. Menurut Feldman (2017), psikologi berupaya memahami bagaimana manusia berpikir, merasakan, dan bertindak dalam berbagai konteks sosial dan kultural. Sedangkan Santrock (2021) menegaskan bahwa psikologi juga berfungsi untuk membantu manusia memahami diri sendiri dan orang lain, serta beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah. Dalam konteks ilmiah, psikologi berkembang menjadi disiplin yang luas dan mencakup berbagai cabang seperti psikologi perkembangan, sosial, klinis, industri, dan pendidikan. Setiap cabang tersebut memiliki fokus kajian tersendiri, tetapi tetap berlandaskan pada upaya memahami perilaku manusia secara sistematis dan objektif. Perkembangan peserta didik merupakan proses yang kompleks dan berlangsung sepanjang hayat. Pada masa sekolah dasar (SD), anak-anak berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat penting, baik secara biologis, psikologis, maupun sosial. Masa ini sering disebut sebagai masa “keemasan kedua” (the golden age) setelah masa balita, karena kemampuan fisik, motorik, dan kognitif berkembang pesat serta menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan akademik dan sosial di masa selanjutnya (Papalia & Feldman, 2018). Guru SD perlu memahami perkembangan fisik dan motorik peserta didik karena dua alasan utama. Pertama, perkembangan fisik dan motorik memengaruhi kesiapan anak untuk belajar. Anak yang sehat dan bugar memiliki tingkat konsentrasi serta stamina belajar yang lebih baik. Kedua, aktivitas fisik dan motorik berhubungan langsung dengan perkembangan otak dan fungsi kognitif, sebagaimana ditegaskan oleh Jensen (2005) bahwa aktivitas fisik meningkatkan aliran darah ke otak dan mendukung fungsi memori, atensi, serta kreativitas. Dalam konteks pendidikan, perkembangan fisik dan motorik bukan sekadar urusan kesehatan jasmani, melainkan juga bagian dari proses pembelajaran yang menyeluruh (holistik). Guru SD tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menumbuhkan kemampuan motorik, koordinasi tubuh, dan kesadaran diri anak terhadap tubuhnya. Aktivitas seperti menulis, menggambar, bermain musik, menari, atau olahraga di sekolah merupakan bentuk pembelajaran motorik yang juga mengasah konsentrasi, disiplin, dan kerja sama sosial. Dengan memahami teori, prinsip, dan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan fisik dan motorik, guru dapat merancang pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, menghindari tuntutan yang berlebihan, dan memberikan dukungan yang optimal bagi tumbuh kembang mereka. Perkembangan kognitif merupakan inti dari proses belajar dan pembelajaran. Kata kognitif berasal dari bahasa Latin cognoscere, yang berarti “mengetahui”. Dalam konteks psikologi pendidikan, perkembangan kognitif mengacu pada perubahan yang terjadi dalam kemampuan berpikir, menalar, memecahkan masalah, dan memahami dunia sekitar (Santrock, 2021). Selama masa sekolah dasar, anak-anak mengalami kemajuan besar dalam berpikir logis, memahami hubungan sebab-akibat, mengingat informasi, serta mengembangkan strategi belajar. Masa ini menandai peralihan dari cara berpikir yang bersifat egosentris dan intuitif (khas anak usia praoperasional) menuju cara berpikir logis konkret (Piaget, 1952). Pemahaman tentang perkembangan kognitif penting bagi guru karena menentukan cara terbaik mengajar. Guru yang memahami tahap berpikir anak dapat menyesuaikan metode, media, dan strategi pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan mental siswa. Misalnya, anak SD belum mampu memahami konsep abstrak seperti “demokrasi” atau “energi” tanpa contoh konkret. Mereka membutuhkan bantuan visual, manipulatif, dan pengalaman langsung. Selain itu, perkembangan kognitif tidak terjadi secara otomatis. Ia dipengaruhi oleh interaksi sosial, bahasa, pengalaman belajar, serta dorongan dari lingkungan. Oleh sebab itu, pembelajaran di sekolah dasar harus dirancang sebagai proses konstruksi pengetahuan aktif, bukan sekadar transfer informasi dari guru ke siswa (Vygotsky, 1978).

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “PSIKOLOGI PENDIDIKAN LANDASAN TEORETIS DAN APLIKASI PRAKTIS DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detail Informasi Publikasi

Penulis
:
Aceng Ahmad Rodian Susila, Ejen Jenal Mutaqin, De Budi Irwan Taofik
Editor
:
Irdam Denni, MT
ISBN
:
978-634-04-6804-5
Bahasa Utama
:
Indonesia
Tahun Terbit
:
2026
Jumlah Halaman
:
490 Halaman
Scroll to Top